Minggu, 29 Agustus 2010

FUNGSI AKAL MENURUT AL-QUR’AN

by: Fery Aguswiajaya, S.Ag
(Guru IPA MTsN 1 Palembang)





A. Pendahuluan

Menurut evolusi Darwin, manusia itu adalah bentuk akhir dari pada evolusi hayati, sedangkan hewan bersel satu sebagai awal evolusi. Dalam pandangan Darwin ini, manusia di tempatkannya dalam alam hewan, baik akal budi, kesadaran moral maupun agama, yang dianggapnya sebagai hasil perkembangan evolusionair.
Hipotesa di atas pada abad ini telah terbantahkan dan terbukti menurut Harun Yahya seorang ilmuan Islam abad ini adalah tidak benar, menurut beliau semua di alam ini memang telah tercipta sesuai dengan kadarnya dari sejak azali. Perbedaan menyeluruh antara manusia dan hewan, adalah manusia dikaruniai “akal” oleh Tuhan, oleh karena itu ilmu Mantiq merumuskan manusia sebagai “hayawanun natiq”(hewan yang berfikir). “Dengan akal inilah melahirkan laku perbuatan yang di kerjakan sehari-hari dalam rangka hubungsan dengan manusia lain atas dasar fitroh Homo sociousnya”.(Nasruddin, 1971. hlm. 15). Manusia juga merupakan puncak ciptaan-Nya sebagai Khalifah, kodratnya “hanif”, yaitu makhluk yang cinta kepada kesucian dan selalu cendrung kepada kebenaran, “Dhamier” (hati nurani)(Ibid, hlm 16)
Dalam Al-Qur’an Allah memberikan petunjuk mengenai akal malalui firman-Nya



“Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”( QS. 17 ; 70)

Yang dimaksud dengan kelebihan yang sempurna itu diantaranya adalah akal, yang merupakan pemberian Allah SWT. “Hakikat akal adalah berfikir, dengan berfikir manusia dapat mengetahui ciptaan Allah berupa benda-benda dengan jalan melakukan pengamatan dan penelitian terhadapnya.”(Y.T Simanegara, 2005.hlm.15)
Akal merupakan simbol kehidupan, tanpa akal tak ada manusia yang beragama dan tak akan ada ilmu. Dengan akalnya manusia berkelana mencari kebenaran lewat berfilsafat, ilmu, “agama”, dan sampai berkesenian mencoba memecahkan arti alam semesta dan hakekat kehidupan. Bahkan dapat terjadi, bahwa manausia itu menggunakan akalnya (rasio) untuk membuktikan bahwa Allah itu ada atau bahwa Ia tiadak ada, padahal Allah itu bukan objek pengenalan seperti alam ini”. (Anshori, 1982, hlm,152)
Dari sini jelas akal memiliki keterbatasan, menurut Emmanuel Kant bahwa “akal tak dapat membawa keyakinan tentang adanya Tuhan,karena akal memberi kebebasan bagi manusia untuk percaya atau tidak.”Ibnu Khaldun menyatakan bahwa “akal itu adalah sebuah timbangan yang cermat, hasilnya adalah pasti dan dapat dipercaya, Tetapi mempergunakan akal untuk menimbang soal-soal yang berhubungan dengan keesaan Allah, hidup di akhirat, atau hakikat kenabian dan hakikat sifat-sifat ketuhanan, adalah sama mempergunakan timbangan tukang emas untuk menimbang gunung.”(Ibid.hlm 150-153)
Dengan uraian diatas maka makalah ini mencoba membicarakan akal dalam perspektif Al-Qur’an, bagaimana kedudukan atau fungsi akal itu sendiri menurut Al-Qur’an dan batasn-batasan fungsi akal itu sebagai karunia Allah kepada manusia yang menjadikan lebih sempurna dibandingkan makhluk lain dari ciptaan-Nya.

B. Inventarisasi Ayat.
Di dalam Al-Qur’an banyak terdapat ayat-ayat yang menyinggung tentang keberadaan akal, menurut DR.Yusuf Qardhawi bahwa “materi ‘aqla dalam Al-Qur’an terulang 49 kali, dalam kata kerja ta’qilun terulang sebanyak 24 kali dan kata kerja ya’qilun sebanyak 22 kali, sedang ‘aqala, na’qala dan ya’qulu masing-masing satu kali.”. Namun karena keterbatasan kami, maka dalam makalah ini akan ditampilkan bebrapa ayat yang tematiknya dibuat berdasarkan kesimpulan penulis dari pemikiran materi yang terdapat dari ayat-ayat yang berhuibungan dengan akal tersebut.

1. Akal sebagai sarana memahami kebenaran.
Ada banyak ayat Al-Qur’an yang menegaskan kepada akal untuk mamahimi kebenaran mutlak dari Allah,dalam redaksional afala ta’qilun (tidakkah kamu berfikir) terulang sebanyak 13 kali dalam Al-Qur’an (Ibid. hlm 19), diantaranya pada Q.S. al-Baqarah 2 ; 44, Q.S. Ali Imran. 3 ; 65, Q.S. al-A’raf. 7 ; 169, Q.S. Yunus, 10 ; 16, Q.S. al-Anbiya’21 ; 10 dan 63 - 67 , Q.S. Mu’minun 23; 80, Q.S. ash-Shaaffat. 37; 137 – 138, Q.S. Hud , 11 ; 51, Q.S. Yasin, 36 ; 62 dan 68. Untuk makalah ini kami tampilkan beberapa ayat sebagai berikut :


“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat) ? maka tidakkah kamu berfikir ? (QS al-Baqarah : 44)



“Katakanlah, “Jikalau Allah Menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) Memberitahukannya kepadamu,” Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya, maka apakah kamu tidak memikirkannya.” (QS Yunus : 16)




‘wahai ahli kitab mengapa kamu berbentah-bantahan tentang hal ibrahim, padahal taurat dan injil tidak diturunkan melainkan sesdudah Ibrahim,Apakah kamu tidak berfikir?(QS.Ali Imran : 65)




‘Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini, Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakan ku, maka tidak kah kamu memikirkannya ?(QS. Hud : 51)





“Sesungguhnya setan itutelah menyesatkan sebagian besar diantaramu, maka apakah kamu tidak memikirkannya.”(QS. Yasin : 61)



“Dan barang siapa yangkami penjanhkan umurnyaniscaya kami kembalikan dia kepada kejadiannya,maka apakah mereka tidak memikirkannya.” (QS, Yasin : 68)




2. Akal digunakan untuk berfikir dan ayat-ayat kauniyah adalah objek kajian.
Di dalam al-Qur’an ada lebih dari 750 ayat yang menunjukan kepada gejala fenomena alam, dan manusia diminta untuk dapat memikirkannya agar dapat mengenal Tuhan lewat tanda-tanda-Nya.(Ghulsyani,1993.hlm.62) Ketegasan al-Qur’an agar manusia memikirkan dengan akalnya akan ayat-ayat kebesaran Allah termaktub dalam beberapa ayat diantaranya,QS, al-Baqarah : 242, QS, Ali Imran : 118, QS, an-Nur : 61, QS, al-Hadid : 17, QS, al-An’am : 151, QS, Yusuf : 2. Sedang untuk objek akal adalah ayat-ayat kauniyah dapt ditelusuri dari beberapa ayat seperti QS, al-Baqarah : 164, QS, ar-Rum : 24, QS, al-Jaatsiyah : 5, QS, ar-Ra’d : 4, QS, an-Nahl : 12 dan 66 – 67. Dan untuk tema ini hanya ditampilkan satu ayat tentang ketegasan untuk berfikir dan asatu ayat untuk objek kajian akal sebagai berikut:


“ Demikianlah Allah menerangkan kepadamu Ayat-Ayat-Nya (hukum-hukum- Nya) supaya kamu memahaminya.” ( QS, al – Baqarah : 242)


“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an dengan berbahasa Arab,agar kamu memahaminya.”(QS, Yusuf; 2)



“Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukun-hukum-Nya)supaya kamu memmahaminya.”(QS. al-Baqarah : 242)



“Ketahuilah oleh kamu bahwa ssungguhnya allah menghidupkan bumi sesudahmatinya,.Sesungguihnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran Kami supaya kamu brfikir.”(QS al-Hadid : 17)







“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahterayang belayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi dan segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkann.”(QS, al-Baqarah : 164)





“Dan dioantara tanda-tanda kekuassaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilatuntuk menimbulkan ketakutan, dan harapan, dan Doia menurunkan air hujan darilangit, lalu menghidupkan bumi dengan air itusesudah matinya, Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaumyang menggunakan akalnya.”(QS. ar-Rum : 24)





“Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit,lalu dihidupkannya dengan air itu bumi sesudah matinyadan pada perkisaran anginterdapat pula tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berakal.



3. Teguran bagi yang tidak menggunakan akalnya

Kalimat dalam bentuk “ya’qilun terdapat sebanyak 22 kali dan diantaranya berupa kalimat laa ya’qilun (mereka tidak berfikir) ada bebrapa kali.”(Qardhawi, 1998.hlm. 24). Adapun ayat-ayat yang membicarakan tema ini diantaranya QS, al-Baqarah ; 170 – 171, QS, al –Maa’idah ; 58 dan 103, QS, al Anfal : 22, QS, Yunus ; 42 dan 100, QS, al-Ankabut : 63, QS, al-Hujurat: 4, QS, al-Hasyr : 14, dan QS, al-Furqan : 43 – 44. Untuk bagian tema ini ditampilkan beberapa ayat sebagai berikut :



“Dan apabila kamu manyeru (mareka) untuk (mengerjakan) shalat mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.”(QS. Al-Ma’idah : 58)



“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknyapada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan bisu yang tidak mengerti apa-apa.” (QS. al-Anfal : 22)




“diantaraq mereka ada orang yang mendengarkanmu, apakh kmu dapat menjadikan orang tuli itu mendengar walaupun mereka tidak mengerti.(QS. Yunus : 42)

4. Keutamaan Ulul-Albab (cendikiawan ) dalam al-Qur’an

Tentang ulul – albab atau ulil – albab di dalam al-Qur’an teulang sebanyak 16 kali sembilan diantaranya Makkiyah dan tujuh lainnya adalah Madani (Qardhawi,1998.hlm 30). Di antaranya QS, al-Baqarah : 179 dan 197, QS, al-Maa’idah : 100, QS, ath-Thalaq : 10 – 11, QS, Ali Imran : 7, 190-191. Dan untuk hal ini ditampilkan ayat-ayat berikut :




“Allah menganugrahkan al-Hikmah (kepahaman yang dalam tentang al-Qur’an dan as-Sunnah) kepda siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dikaruniai anugrah yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS, al-Baqarah : 269)



“Dandalam kasus itu ada jaminan kelangsungan hidup bagimu wahai orang oaring yang berakal supaya kamu bertaqwa. “(QS. al-Baqarah : 179)



“Katakanlah tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertaqwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal agar kamu mendapat keberuntungan.’ (QS. al-Ma’idah : 100)

C. Asbaabun Nuzuul Ayat

1. QS, al – Baqarah ayat 44 diturunkan (sehubungan dengan orang-orang Yahudi Madinah, pada saat berkata kepada mantunya, kaum kerabatnya dan saudara sesusunya yang telah masuk Islam : “Tetaplah kamu pada agama yang kamu anut (Islam) dan apa-apa yang diperintahkan oleh Muhammad, sebab segala yang diperintahkannya adalah benar.” Ia menyuruh orang lain berbuat baik, tapi dirinya sendiri tidak mengerjakanya. Sehubungan dengan ini ayat ini Allah turunkan sebagai peringat bagi orang-orang berbuat demikian. Diriwayatkan oleh al-Wahidi dan at-Thsa’labi dari al-Kalbi dari Abi Shaleh yang bersumber dai Ibnu Abbas)
2.QS, al-Baqarah ayat 242 sehubungan dengan ayat 236 , untuk memberikan keterangan secara tegas tentang kewajiban seorang suami memberikan mut’ah-pemberian atau sekedar bekal- kepada istri yang diceraikan. Tentu hukum dan perintah ini akan terlaksana dengan baik apabila mereka benar-benar mengaku orang yang bertaqwa kepada Allah. ( HR. Ibnu Jarir dari Ibnu Zaid)
3. QS, Yusuf ayat 2, Pada suatu waktu para sahabat berkeinginan mengadakan perbandingan agama dengan agama-agama terdahulu, melalui cerita dari Rasulullah, dan menurunkan ayat 23 surat az-Zumar…..namun mereka meminta kepada Rasulullah untuk menceritakan kisah yang lebih indah yang bukan al-Qur’an, maka Allah menurunkan ayat 1 –3 untuk memberikan penjelasan kepada mereka. Mereka meminta perkataan yang baik diberi yang lebih baik dan meminta kisah yang indah diberi yang lebih indah oleh Allah yaitu al-Qur’an. (HR. Ibnu Jarir dari Mas’udi dari Aun bin Abdillah)
4. QS. Al-Baqarah ayat 164 diturunkan setelah ayat 163 yang diturunkan kepada Rasulullah di Madinah. Karena orang-orang kafir Quraisy di Mekkah bertanya “bagaimana Tuhan yang Tunggal dapat mendengar manusia yang banyak ?”. maka Allah menurunkan ayat 164 sebagai jawaban atas pertanyaan mereka. ( Diriwayatkan oleh I
bnu Jarier dan Ibnu Abi Hatim dari Sa’id atau Ikramah yang bersumber dari ibnu Abbas)
5. QS, al-Maa’idah ayat 58 diturunkan bersamaan dengan ayat 57 sebagai peringatan terhadap kaum muslimian serta larangan bagi mereka untuk mengankat kaum munafik sebagai pemimpin mereka. Hal ini sehubungan Rifa’ah bin Zaid bin Tabut dan Suwaid bin Harist memperlihatkan ke-Islamannya, tetapi sebenarnya dia seorang munafik asli, diantara mereka sekian banyak oaring-orang muslim ada yang menaruh simpati kepadanya. (HR Abu Syaikh dan Ibnu Hibban dari Ibnu Abbas)


D. Makna Mufrodat
Kata akal dari kata al-‘aql merupakan kata benda, terdapat dalam al-Qur’an dalam bentuk fi’il mudhari’ , terutama materi yang bersambung dengan wawu jama’ah, seperti bentuk ta’qilun, ya’qilun, ‘agala, na’qilu, dan ya’qilu, “menurut Harun Nasution artinya paham dan mengerti” (Abuddin Nata, 2002. hlm 130).
Pada sub tema ditampilkan ayat-ayat yang memuat kata ; afala ta’qilun, yang bermakna tidaklah kamu berfikir,merupakan bentuk istifham inkari (pernyataan negatif) yang bertujuan memberikan dorongan dan membangkitkan semangat.(Qardhawi,1998 : 19). Kata Ta’qilun berarti kamu mengerti atau memahaminya” berkaitan dengan ayat-ayat yang Allah jelaskan serta harus dimengerti,baik ayat tertulis maupun yang tidak tertulis tapi dapat dilihat.”(Ibid. ; 23). Kata ya’qilun adalah bentuk fi’il mudhari’ untuk orang ketiga jamak, dalam sub tema ditampilkan laa ya’qilun yang berarti tak mau berfikir atau tidak mau mempergunakan akal atau” mereka tidak berfikir,merupakan penyataan yang bersifat negatif sebagai cercaan terhadap mereka yang tidak menggunakan akal mereka yang dianugrahkan Allah, bahkan mereka menafikan akal tersebut sama sekali sehingga mereka bersifat statis, membeo, dan ingkar.”(Ibid. : 24) Singkatnyaa akal(‘aql) itu adalah pikiran (mind) atau pemahaman.
Dalam al-Qura’an akal disebut juga dengan istilah hijr yang bermakna pencegah, menurut Raghib al- ashfahani bahwa akal dinamakan hijr karena manusia dengan akalnya mencegah dirinya mengikuti nafsu. Selain itu akal disebut juga fu’ad baik dalam bentuk tunggal maupun jamak. Karena ia termasuk dalam salah satu dari ketiga perangkat pokok ilmu pengetahuan pendengaran, penglihatan, dan fu’ad (kalbu).(Qardhawi ; 40)
Kata ulul – albab atau ulil- albab dalam al- Qur’an adalah sebutan lain dari akal yang ” diidentikan dengan kata lub jamaknya al-albab, sehingga kata Ulul-albab dapat diartikan orang-orang yang berakal”(Op.cit : 130). Imam al-Baqa’i berkata, “Albab adalah akal yang memberi manfaat kepada pemiliknya dengan memilah sisi substansial dari kulitnya.” Al Harali berkata, “Ia adalah sisi terdalam akal yang berfungsi untuk menangkap perintah Allah dalam hal-hal yang dapat diindrakan, seperti halnya sisi luar akal yang berfungsi untuk menangkap hakikat-hakikat makhluk, mereka adalah orang-orang yang menyaksikan Rabb mereka melalui ayat-ayat-Nya.”(Ibid : 31) Imam Abi al-Fida Isma’il mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Ulul- albab adalah:
“Ulul-albab adalah al-uqul al-tamm al-zakiyah al-latty tudrak al-asy-ya bibamqaiqiba ‘ala jalyatiha wa laisa ka al-shamm al-bukm al-ladzina laa ya’qilun ( yaitu orang-orang yang akalnya sempurna dan bersih yang dengannya dapat ditemukan berbagfai keistimewaan dan keagungan mengenai sesuatu tidak seperti orang yang buta dan gagu yang tidak dapat berfikir.”( Abuddin Nata : 131-132)

Pernyataan tersebut senada dengan Imam al-Baqa’i tentang Yaa ulil-albab yaitu akal-akal yang bersih, serta pemahaman yang cemerlang, yang terlepas dari semua ikatan fisik sehingga ia mampu menangkap ketinggian taqwa dan ia pun menjaga ketaqwaan itu.”(Op.cit : 31)
Dari etimologi dan terminologi di atas, dapat kita analisis bahwa akal (‘agl,/ albab,/ hijr / fu’ad) adalah pikiran,/ pemahaman yang cemerlang,/ pencegah dari perbuatan yang mengikuti nafsu,/ sebagai sarana memahami ilmu pengetahuan (peran kalbu). Atau dapat kita perjelas lagi secara istilah akal adalah potensi manusia yang substansial sebagai proses berfikir (pemahaman yang cemerlang) yang dapat mencegah manusia untuk berbuat mengikuti hawa nafsu dan sekaligus sebagai perangkat yang menjadi sarana manusia untuk memahami ilmu pengetahuan. Adapun Ulul-albab adalah orang-orang yang memiliki pemikiran dan pemahaman yang bersih dan cemerlang (sempurna) dengan ketinggian taqwa
keistimewaan dan keagungan) yang terpelihara dan terlepas dari ikatan material (fisik). Dapat juga disebut ulul-albab adalah para cerdik cendikia atau cendikiawan.

E. Tinjauan Teoritis tentang Akal
Apakah yang dimaksud dengan akal, dalam pemikiran para ahli baik Islam maupun filosof memiliki keragaman pengertian, namun demikian tetap memiliki persamaan bahwa akal adalah potensi yang dimiliki manusia yang diguinakan sebagai alat/sarana berfikir. “sebagian mengartikan akal sebagai kemampuan berfikir rasional, dan yang lain mengidentikan dengan kemampuan hati dan bathiniah.”(A. Munir,1993 : 42). Ini menujukan pada kita bahwa aktivitas akal bersifat ruhaniah, karena ruhani itu meliputi akal, nafsu, Qalbu dan ruh. Dan sejalan dengan J. Verkuyl bahwa “Rasio (akal) juga menjadikan manusia sanggup untuk menjelajahi dunia rohaniah, seperti yang logis, yang psikis, yang yuridis, yang etis, yang religius dan sebagainya.”(Anshori, 2004 : 16).
Jadi akal merupakan satu potensi dalam rohani manusia yang memiliki kesanggupan untuk mengerti secara teoritis realitas kosmis yang mengelilinginya dan secara praktis mengubah dan mempengaruhinya. Para filsuf klasik bahkan juga yang modern dan pasca modern atau yang kontemporer, menempatkan akal sebagai substansi kualitas manusia. Bahkan lebih idealis lagi di dalam kalangan ilmuan yang menyatakan bahwa seluruh bangunan ilmu pengetahuan manusia adalah produk dari aktivitas akal. Sebutan seperti rasio dan intuisi tetap menunjukan peranan akal dalam proses produksi ilmu pengetahuan,
Adapun al-Razi seoarang filsuf muslim klasik menyatakan “rahmat Tuhan yang tertinggi adalah akal, setiap manusia memiliki kemampuan yang sama melalui akal, dan akal adalah ukuran, pengendali, dan pengatur sehingga manusia harus mengikuti gerak akal.”(Ibid : 50). Al-Farabi berpendapat bahwa; “akal terdiri dari dua macam yaitu praktis dan teoritis, akal prktis menghasilkan penyimpulan tindakan, sementara akal teoritis terdiri dari tiga yaitu ; material-fisik (potensial), kebiasaan (habitual) atau akal aksi, dan perolehan,” Menurut Ibnu Sina ,”akal manusia memiliki hubungan dengan intelegensi yang secara langsung berasal dari Tuhan. ( Ibid : 51)
Dari pandangan para filosof muslim tersebut dapatlah dikatakan bahwa akal adalah kemampuan (potensi ) yang dimiliki manusia dalam bentuk kamampuan intelegensi yang dapat menjadi ukuran , pengendali dan pengatur dari tindakan-tindakannya baik yang bersifat praktis maupun teoritis. Menurut Ibnu Rusyd “akal praktis akan melahirkan pengetahuan dengan pengalaman dan akal teoritis berhubungan dengan pengetahuan tentang kekekalan melalui jalan abstraksi, kombinasi, dan penilaian.”(Ibid : 52 )
Namun demikian akal menurut Dr. J. Verkuyl “cendrung sekali melewati batas-batas kesanggupannya dan mnjadi tinggi hati serta mengabdi kepada semu dan dusta, ia bertindak seakan-akan dewa, mengangkat dirinya menjadi ukuran yang termulia dan terakhir, bertindak selaku hakim tertinggi atas kebenaran.” (Ansori,1982. hlm.:151). Menurut Kant “penyelidikan dengan akal benar dapat memberikan suatu pengetahuan tentang dunia yang tampakini, tetapi akal itu sendiri tidak sanggup memberikan kepastian-kepastian tentang pernyataan terdalam tentang Tuhan, manusia, dunia, dan akhirat, akal tidak mungkin memperoleh kepastian, tatapi hanya berupa pengandaian saja.” (Ibid : 151). Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa akal manusia dalam fungsinya memiliki keterbatsan dalam hal yang sifatnya material atau yang dapat diamati dari gejala-gejala yang ada di alam ini, tetapi akal tidak mampu memikir lebih dalan (hakikat) sesuatu khususnya yang immaterial. Lebih tegas lagi bahwa akal itu mampunyai batas-batas yang dengan keras membatasinya, oleh karena itu tidak bisa diharapkan dalam memahami Allah dan sifat-sifat-Nya, karena akal hanyalah salah satu dari beberapa atom yang diciptakan Allah.
Ulil albab biasa disebut dengan cendekiawan, menurut Hanna.E. Kalsis dalam bukunya “A Concodence of The Qur’an”menyatakan bahwa ulil-albab itu adalah:
“-orang yang mempunyai pemikiran (mind) yang luas dan mudah
-orang yang mempunyai perasaan (heart) yang peka dan sensitive.
-orang yang mempunyai daya piker (intelektual) yang tajam dan kuat
-orang yang memiliki pandangan dalam atau wawasan (insight)yang luas.
-orang yang memiliki pengrtian (understanding) yang sehat,tepat,atau luas.
-orang yang mamiliki kebijaksanaan (wisdom),yakni rangkaian mendekati kebenaran,dengan pertimbangan yang terbuka dan adil.” (Dawam Raharjo,2002. : 577)




Adapun ciri-ciri ulil albab menurut beliu adalah sebagai berikut :

1. Mempunyai pengetahuan.
2. yang memnuhi perjanjian dengan Allah dan tidak akan ingkar dari janji tersebut
3. yang mengembangkan apa yang diberikan Allah
4. takut kepada Allah selalu ingin mendapatkan rudla dari Allah
5. mendirikan shalat
6. membelanjakan rizki pada jalan yang benar.
7. menolak kejahatan dengan kebaikan . (Ibid : 568)

Kajian teori di atas kami kira cukup mewakili dasar pemikiran berikutnya dalam menganalisa tema-tema yang ada dalam makalah ini dari tinjauan al-Qur’an yang telah dipaparkan dasar-dasarnya pada uraian sebelumnya.

F. Pembahasan Tematik tentang Fungsi Akal menurut al-Qur’an
Al-Qur’an berulang-ulang menyuruh dan mendorong perhatian manusia dengan bermacam-macam cara, supaya manusia menggunakan akalnya. Ada secara tegas, perintah menggunakan akal dan ada pula berupa petunjuk, mengapa seseorang tidak menggunakan akalnya, kemudian diterangkan pula bahwa segala benda di langit dan di bumi menjadi bukti kebenaran kekuasaan, kemurahan dan kebijaksanaan Allah, hanya manusia yang berakal dan menggunakannya yang dapat memahaminya Term akal dalam al-Qur’an memang ditemukan dalam bentuk beberapa kata yang telah kita ungkapkan pada uraian makna generic seperti albab, fu’ad, dan hijr. Dengan demikian al-Qur’an sendiri sangat memperhatikan keberadaan akal sebagai suatu potensi pada diri manusia. Untuk itu kita kaji ayat-ayat yang telah kita iventarisasi di bagian awal makalah ini.
1. Akal sebagai sarana memahami kebenaran
Pada sub tema ini kita mengangkat kata afala ta’qilun yang diungkapkan sebanyak 13 kali dalam al-Qur’an yang berarti “tidakkah kamu berfikir?” menurut Yusuf Qardhawi “yang paling mencolok dalam redaksi tersebut adalah penggunaan bentuk istifham inkari (pernyataan negatif)nyang bertujuan memberi dorongan dan membangkitkan semangat.”(Qardhawi : 19). Ayat 44 dari surah al-Baqarah yang kita tampilkan mengandung makna sebagai berikut:
“ataa’ muruunan naasa bilbirrib (mengapa kamu menyruh orang lain berbuat kebaikkan) yaitu beriman pada kerasulan Muhammad, watan sawna anfusakum ( sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri) hingga kamu mengabaikannya dan tak tak mau beriman kepadanya, wa antum tatluuna alkitaaba (padahal kamu membaca kitab) yakni Taurat, didalamnya tercantum ancaman atau siksaan terhadap orang yang tidak sesuai perkataan dengan perbuatannya, afala ta’qiluun (tidakkah kamu pikirkan?)akibat jelek perbuatanmu hingga kamu jadi insaf.”(Imam J. As-Suythi, 2004.hlm : 24)

Menurut M. Quraish Sihab kata albirri adalah kebajikan segala hal, baik dalam hal dunia maupun akhirat. Padahal kaum yang membaca kitab suci (taurat) yang mengandung kecaman terhadap mereka yang hanya pandai menyuruh tanpa mengamalkan tidakkah kamu berakal.(Quaraish Sihab, 2004. hlm 178-179). Dari kedua uraian tafsir tersebut jelas bahwa perbuatan manusia yang bertentangan dengan pengetahuannya dan bertentangan dengan perintah yang ia berikan kepada orang lain, tidak akan timbul kecuali dari orang yang tidak lurus pemikirannya. dalam artian tidak mau mengikuti kebenaran yang difikirkannya apalagi kebenaran itu adalah mutlak (wahyu).
Di jelaskan pula dalam ayat 16 surah Yunus menurut Imam Jalaluddin As-Sayuthi bahwa term afala ta’qiluun yakni maka apakah kalian tidak memikirkannya bahwa saahnya al-Qur’an itu bukanlah buatan aku sendiri (Muhammad SAW).(Ibid , jilid II : 855) Yusuf Qardhawi menafsirkan ayat 16 surah Yunus ini sebagai berikut:
“Allah telah memberikan perintah kepada Rasulullah SAW, untuk menjelaskan kepada mereka bahwa diutusnya beliu, dengan membawa al-Qur’an ini, semata-mata atas kehendak Allah bukan karena kehendaknya sendiri. Telah puluhan tahun Nabi SAW, hidup bersama mereka, sebelum itu beliu tidak pernah mendakwakan diri, berbicara atas nama Allah, atau mengaku-aku menerima wahyu. Maka bagaimana mungkin dapat diterima akal, orang yang sangat dipercaya selama empat puluh tahun kemudian dusta? Perjalan beliu yang lurus tiba-tiba ‘menyimpang’ dan melakukan tindakan yang controversial, tanpa sebab dan justifikasi.”(Op.cit : 21)

Dari tafsir ayat-ayat di atas term afala ta’qiluun mendorong manusia untuk menggunakan akalnya agar memikirkan untuk memahami kebenaran-kebenaran yang telah nyata apalagi itu berasal dari wahyu, senada dengan penyataan DR. Abdurrahman Umdirah, bahwa “aqal didalam Islam mempunyai tugas tersendiri, di dalam hal keimanan dengan meletakan baginya aqidah-aqidah dan patokan-patokan untuk itu, ialah untuk menerima risalah (wahyu) dengan tugasnya memahami apa yang diterima dari Rasulullah SAW.”(DR. Abdurrahman , 1994.hlm : 33).
Demikian pula yang digambar pada ayat-ayat lainnya seperti “….dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa,maka tidakkah kamu memikirkannya.”(Yusuf ; 109). Hal ini jalas kebenaran kebaikan antara kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia yang sementara,tentulah yang lebih baik adalah akhirat. Pada ayat yang lain “Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang didalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu, maka apakah kamu tiada memahami.”(al-Anbiya’; 10). Ini juga kebenaran mutlak bahwa rasulullah muncul di tengah bangsa Arab dengan anugrah al-Qur’an, yang di dalamnya kemuliaan mereka disebut dan peringatan untuk mereka agar menyembah Allah, termasuk risalah dan perjalanan mereka. Kemudian “Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak mamahaminya.” (al-Mu’minun; 80). Ayat ini memaparkan aktivitas Allah pada kosmos ini, menghidupkan dan mematikan serta menggilirkan siang dan malam, yang menujukan tanda-tanda kesempurnaan kekuasaan Allah, keluasan kehendak-Nya dan ketinggian hikma-Nya bagi orang yang berakal dan mau memahaminya sebagai kebenaran mutlak.
Jelas menurut uraian di atas, akal manusia merupakan suatu perangkat yang berguna sekali, bahkan pokok, agar wahyu diterima dan dilaksanakan, hingga akhirnya tunduk (patuh) pada wahyu sebagai kebenaran yang hakiki.

2. Akal digunakan untuk berfikir dan ayat-ayat kauniyah adalah obyek kajian.
Menurut DR. Mahdi Ghulyani, ada 750 ayat al-Qur’an yang mengungkapkan tentang fenomene alam, dan hampir selurhnya ayat ini memerintahkan manusia untuk mempelajari dan memahaminya, dimana fenomena alam pada term ini merupakan tanda-tanda yang maha kuasa, dan suatu pemahaman tentang alam adalah analog dengan pemahaman tanda-tanta yang bisa membawa kita meraih pengetahuan Tuhan.
Dalam sub tema ini terfokus pada term ta’qilun yang di dalam al-Qur’an terulang 24 kali, berkaitan dengan ayat-ayat yang allah jelaskan serta harus dipikirkan, baik yang tetulis maupun tidak tertulis tapi dapat dilihat. Seperti suraat al-Baqarah ayat 242 di dalamnya termaktub “yubayyinullahu lakum aayaatihi la’allakum ta’qiluun”(Allah menjelaskan kepada mu ayat-ayat-Nya agar kamu mengerti (memahaminya) ayat ini menjelaskan tentang ayat sebelumnya yaitu ayat 241, dimana terdapat penjelasan tentang ketentuan suami memberi mut’ah terhadap idstri yang diceraikannya sebagai haqqan (sebagai suatu kewajiban). Dan ini berarti Allah melalui ayat mempertegas agar memeimikirkan dan memahamim suatu ketentuan yang telah ditetapkanya. Pada suarat Yusuf ayat 2 berbunyi “inna anzalnaahu qur’aanan ‘arobiyyan” (sesungguhnya Kami menurunkan al-Qur’an dengan berbahasa Arab), la’allakum (agar kalian) hai penduduk Mekkah, ta’aqiluun ( memahaminya) memahami maknanya.
Menurut Yusuf Qardhawi “bahwa yang di maksud dengan aayaatihii (ayat-ayat Kami atau tanda –tanda kebesaran Kami) adalah ayat-ayat kauniyah (alam semesta maupun yang tertulis)”(Op.cit : 25-26) salah satunya penjelasan tentang hukum-hukum Allah. Dan ini dipertegas dengan ayat 164 al- Baqarah jelas menerangkan tentang objek kajian akal secara rinci tentang ayat-ayat kauniyah.(ar-Rum : 24, al-Jatsiyah:5, ar-Rad : 4, an-Nahl : 66-67). Dengan demikian objek kajian akal meliputi semua sisi jagat raya ini baik bagian atas maupun bawahnya, manusia antara hari ini dan masa lalu, serta ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat tertulis dalam al-Qur’an.

3. Teguran bagi yang tidak menggunakan akal
Pada bagian ini mengambil term kata laa ya’qiluun (mereka tidak berfikir) sebagaimana yang telah di uraikan adalah sebagai cercaan terhadap mereka yang tidak menggunakan akal mereka yang dianugrahkan Allah. Mereka bahkan manafikan akal tersebut sama sekali sehingga mereka bersifat statis, membeo, dan ingkar. Surat al-Maidah ayat 58 sebagai berikut:
“wa (dan )orang-orang yang, idzaanaadaitum (apabila kamu menyeru), ilashsholaati (untuk sholat) dengan adzan, attakhidzuu haa (mereka menjadikannya) sholat itu, huzuwaw wala’iban (sebagai bahan olok-olok dan permainan)yakni dengan mempermainkan dan mentertawainya, dzaalika (demikian itu ) maksudnya sikap mereka itu, bi annahum(adalah karena mereka), qowmul laa ya’qilun (kaum yang tak mau berfikir).(Op.cit. : 478)
Tentu saja, orang yang menghina panggilan shalat dan ajakan untuk berdiri dihadapan Allah, bahkan mereka kemudian menjadikannya sebagai ejekan dan permainan adalah orang yang tidak berakal. Pada bagian lain Allah mendeskripsikan kebodohan mereka melalui ayat 171 surat al-Bagarah “Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu, dan buta, maka oleh sebab itu mereka tidak mengerti.”Jadi mereka seperti hewan gembalaan yang tidak mengerti hakikat perkataan. Melemahkan pengetahuan mereka, sehingga tidak dapat mendengar, mengucapkan dan melihat hal kebenaran, mereka telah bisu,tuli,buta, dan tak mampu berfikir. (Qordhawi : 24-25). Allah pun mendeskripsikan mereka telah menjatuhkan dirinya sendiri dari derajat kemanusiaan karena mereka mengingkari akal dan indera mereka (QS. Al-Anfal : 22, Yunus 42) dan mereka tidak menerima keimanan dan petunjuk (Yunus : 100) dan sebagian dari mereka akalnya menerima, namun cendrung mengikuti kelompoknya (al-Ankabut 63).

4. keutamaan Ulil-albab (cendekiawan) dalam al-Qur’an
Telah dibahas secaea generic tengang ulil-albab yaitu orang-orang yang akalnya sempurna dan bersih yang dengannya dapat ditemukan berbagfai keistimewaan dan keagungan mengenai sesuatu tidak seperti orang yang buta dan gagu yang tidak dapat berfikir. Dalam al-Qur’an memberi penghargaan terhadap ulul-albab ( cendekiawan dan intelektual) dan Allah memuji mereka dalam banyak ayat dalam surat-suarat Makkiyah dan Madaniyah. Tentang ulul – albab atau ulil – albab di dalam al-Qur’an teulang sebanyak 16 kali sembilan diantaranya Makkiyah dan tujuh lainnya adalah Madani. Surat al-Baqarah ayat 269 sebagai berikut :
“yu’til hikmat (Allah memberikan hikmah) artinya ilmu yang berguna yang dapat mendorong manusia untuk bekerja dan berkarya, mayyasyaa’ wa man yu’tal hikmata faqod uutiya khoiron katsiiron(kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan barang siapa yang diberi hikmah, maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak) karena hikma itu akan menuntunnya kepada kebahagiaan abadi, wa maa yadzakkaru ( dan tiadalah yang dapat mengambil pelajaran), illaa ulul-albab ( kecuali orang-orang berakal) ( Op.cit : 155)

Ayat ini menjelaskan bahwa penghargaan terhadap ulil-albab adalah sebagai orang yang berhak untuk mengambil manfaat dari hikmah. Allah juga memberikan penjelasan kepada mereka nilai tuntunan dan petunjuk yang diturunkan kepada mereka. Yang digambarkan pada diri rasulullah, menjadi bentuk keimanan yang hidup dalam sunnah dan sirohnya, dan menuju cahaya (QS. Ath-Thalaq : 10-11). Pada surat Ali Imran, ulul-albab disebut sebanyak dua kali (7 dan 190-191) yang menerangkan bahwa ulul-albab tidak terjerumus pada hal yang samar (yang tidak jelas), kemudian ulul-albab terhadap ayat-ayat Allah (alam semesta) menjadi objek kajian berfikir dan merenung, merasa alam semesta ini tidak diciptakan sia-sia karena mengandung hikmah yang dapat ditangkap oleh kaum ulul-albab. (Qordhawi; 32-33)
Pada surat ar-Ra’d kum ulil-albab disebut sebagai kelompok orang yang mengetahui apa yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta mengetahui bahwa yang diturunkan itu adalah benar dan tidak mengandung kebatilan sedikit pun.(ar-Ra’d : 19). Ayat-ayat al-Qur’an menggambarkan kaum ulul-albab dengan beberapa keutamaan akhlak yang mulia. Dan menggambarkan keterkaitan antara kesempurnaan intelaktual dan kesempurnaan akhlak pada kaum ulul albab. Merekalah manusia yang paling kompeten untuk mendalami kandungan dan al-Qur’an tersebut serta menghafal dan membacanya. (Ibrahim : 52) (Ibid : 34-35)
Term Ulul-albab pada surat az-Zumar disebut sebanyak tiga kali mengandung makna , bahwa orang-orang yang mendirikan malam mereka, berdiri diatas kaki mereka untuk beribadah kepada Rabb mereka dengan penuh pengharapan (az-Zumar: 9). Juga dibicarakan sebagai hamba-hamba Allah yang menegakkan tauhid, tidak menyembah selain Allah dan mereka hanya mengharap kepada Allah semata. Dan Allah memberikan berita gembira kepada mereka dengan kemuliaan (az-Zumar : 17-18) (Ibid : 36-37)
Demikianlah kajian tematik kita tentang akal dalam al-Qur’an pada makalah sederhana ini, yang terdapat di dalam pembahasannya banyak sekali kekurangan yang perlu disempurnakan, hal ini karena kelemahan yang banyak terdapat pada penulis terutama disegi kebahasaan karena kajian ini pokoknya adalah bahasa dan nalar.

G. Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan tentang akal mendapat perhatian yang khusus walaupun tidak pernah al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa akal adalah potensi manusia, tapi al-Qur’an membicarakan dalam bentuk fungsi-fungsi akal, yang dari sini kita dapat menganalisa kedudukanya sebagai salah satu sarana dalam menemukan dan memahami kebenaran.
Akal dalam al-Qur’an tesebut sebanyak 49 kali, dalam bentuk fi’il mudhar’ dalam bentuk kata ta’qilun (24 kali), ya’qilun (22 kali), ‘agala, na’qilu, dan ya’qilu (masing-masing 1 kali),

Akal dalam al-Qur’am memiliki term bermacam - macam yaitu albab (akal yang bersih dan memberimanfaat pada pemiliknya), Hijr( pencegah yakni akalnya mencegah diribya mengikuti nafsunya), fu’ad (kalbu sebagai salah satu sarana pokok ilmu pengetahuan), Nuha jamak dari nuhya (akal mencegah orang untuk melakukan apa-apa yang tidak pantas untuk dibuat). Secara generic diartikan akal adalah potensi manusia yang substansial sebagai proses berfikir (pemahaman yang cemerlang) yang dapat mencegah manusia untuk berbuat mengikuti hawa nafsu dan dari perbuatan yang tidak pantas serta sekaligus sebagai perangkat yang menjadi sarana manusia untuk memahami ilmu pengetahuan. Adapun Ulul-albab adalah orang-orang yang memiliki pemikiran dan pemahaman yang bersih dan cemerlang (sempurna) dengan ketinggian taqwa keistimewaan dan keagungan) yang terpelihara dan terlepas dari ikatan material (fisik).

Akal secara teoritis adalah hakikat berfikir. Akal (rasio) merupakan satu potensi dalam rohani manusia yang memiliki kesanggupan untuk mengerti secara teoritis realitas kosmis yang mengelilinginya dan secara praktis mengubah dan mempengaruhinya. Akal adalah kemampuan (potensi ) yang dimiliki manusia dalam bentuk kamampuan intelegensi yang dapat menjadi ukuran , pengendali dan pengatur dari tindakan-tindakannya baik yang bersifat praktis maupun teoritis.

Dalam al-Qura’an, akal mendapat porsi yang cukup jelas, berkedudukan sebagai saran memikirkan dan memahami kebenaran mutlak (wahyu) yaitu risalah yang dibawa oleh Rosulullah SAW. Dengan objek kajiannya adalah ayat-ayat kauniyah baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Sehingga akal berfungsi sebagai pencegah perbuatan yang tidak pantas dan hanya menuruti hawa nafsu, serta berfungsi sebagai prangkat pokok ilmu pengetahuan.














Daftar pustaka

Abdul Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim (pengantar filsafat,pendidikan Islam, dan dakwah), Yogyakarta, Sipress, 1993

Abdur rahman Umdirah,DR, Metode Al-Qur’an dam Pendidikan, Surabaya, Mutiara Ilmu, 1994

Anshori Endang Saifudin,Prof,DR, Wawasan Islam, Jakarta Gema Insani Perss,2004

___________________________, Ilmu Filsafat Dan Agama, Surabaya, PT Bina Ilmu, 1982

Dawam Raharjo,Prof.DR, Ensiklopedi Al-Qur’an (Tafsir sari al-Qur’an pendekatan konsep-konsep dan kunci), Jakarta, Paramadina, 2004

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung, CV Diponegoro,2000

Ghulsyani Mahdi, DR, Filsafat Sains menurut Al-Qur’an, Bandung, Mizan, 1993

Imam As-Suyuthi. J dan Imam Al-Mahali. J, Tafsir Jalalain Jilid I, Bandung, Sinar baru Algensindo, 2004

___________________, Tafsir Jalalain Jilid II, Bandung, Sinar baru Algasindo, 2004

Mahali, A. Mudjab, Asbabun Nuzul (studi pendalaman Al-Qur’an), Jakarta, PT Raja Grafindo, 2002

Qordhawi Yusuf, DR, Al-Qur’an berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, Jakarta, Gema Insani Perss, 1998

Yos. T. Simanegara, Mengembangkan Daya Fikir melalui keajaiban Al-Qur’an, Jakarta, Iqra Insan Perss, 2005

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar